Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Erry's Site

HomeWelcomeMay 7, 2006
SELAMAT BERJUMPA DI DUNIA MAYA, TETAPI NYATA.

Blog EntryNov 6, '10 8:14 PM
for everyone

“Fitrah Mansion” Memorial Park Bernuansa Islami


“Fitrah Mansion” Memorial Park Bernuansa Islami

Memasuki bulan Ramadhan bulan suci bagi umat muslim, San Diego Hills Memorial Park (SDH) mempersembahkan produk terbarunya, “Fitrah Mansion” yang diluncurkan pada pertengahan Agustus 2009.

Fitrah Mansion merupakan bagian dari area pemakaman Five Pillars seluas 25 hektar yang didesain berdasarkan filosofi Islami ‘5 Rukun Islam’ dimana keseluruhan unit-nya dibangun dengan menghadap arah Kiblat. Sebuah bangunan musholla berdiri ditengah areanya. Five Pillars terdiri dari beberapa garden yakni Garden of Prayer (Shalat), Unity Garden (Syahadat), Garden of Benefaction (Zakat), Pilgrimage Garden (Ibadah haji) dan Fasting Garden (Puasa).

Didalam Garden of Benefaction terdapat Fitrah Mansion seluas lebih kurang 15.000 m2 dengan masing-masing unit adalah single burial ukuran 1,5 x 2,6 m2 dan private estate 7x6 m2.  Nama Fitrah Mansion diilhami dari salah satu tipe zakat yang harus dikeluarkan oleh setiap muslim setiap menjelang Idul Fitri.

Sejak diperkenalkan kepada publik, San Diego Hills mendapatkan tanggapan yang cukup baik dari masyarakat. Saat ini telah terjadi perubahan paradigma dari At-Need (membeli kavling kalau ada keluarganya meninggal) menjadi Pre-Need (memesan lebih dulu), dimana banyak orang berfikir bahwa sesuatu yang tabu kalau membeli Pre-Need. Saat ini tak kurang dari 15.000 Pre-Need dan 700 makam telah terisi.

Dari sisi jumlah masyarakat yang berkunjung  melihat langsung lokasi, fasilitas dan keindahan memorial park dengan luas total 500 hektar itu telah mencapai 8.000 - 10.000 pengunjung perbulan yang terdiri dari beragam keyakinan. Ada kelompok pengajian yang secara sukarela menyewa bus sendiri sampai pada keluarga yang membawa mobil pribadi bersama keluarga untuk melihat sampai memilih lokasi.

Keistimewaan yang dimiliki San Diego Hills adalah masyarakat yang membeli unit akan terbebas dari iuran tahunan dan dari biaya pemeliharaan selamanya. Masyarakat cukup membayar satu kali untuk tempat yang dipesannya.

Hal lain yang membuat masyarakat Jakarta dan sekitarnya begitu tertarik pada SDH adalah terletak di lokasi strategis dan mempunyai akses langsung dari jalan tol Cikampek dan hanya 45 menit dari Jakarta. Dibangun dengan mempertahankan kontur asli yang berbukit dan berlembah, SDH  didesain sebagai kawasan  dengan berbagai fasilitas modern melebihi dari kebutuhan sebuah taman pemakaman pada umumnya yang dibangun di Indonesia.

San Diego Hills memiliki beragam fasilitas yang tidak pernah dijumpai di memorial park  manapun di dunia. Didalamnya terdiri dari bangunan dengan model arsitektur bergaya Mediteranian dan bangunan kuno dari Turki seperti Heavenly Dome sebagai gedung serbaguna,  restaurant Italia “La Collina” dengan kapasitas 200 kursi.  Taman rerumputan yang indah untuk melangsungkan acara ditepi danau seluas 8 hektar, fasilitas untuk berolahraga seperti kolam renang, lapangan bola, jogging track, olahraga bersepeda, toko swalayan Foodmart yang menyediakan aneka minuman dingin, hot snack, bakery dan LA ROSA FLORIST and GIFT SHOP dimana anda bisa memesan bunga utk ziarah, wedding, ulang tahun dll.

Di lokasi family centre, SDH juga telah mencatat  sudah lebih dari lima pasangan yang mengabadikan kenangan terindahnya yaitu menyelenggarakan pesta pernikahan tepatnya di restaurant La Collina.

“Jadi apa yang menjadi harapan kami diawal pembangunan San Diego Hills telah dipahami oleh masyarakat dan fungsi San Diego Hills selain sebagai memorial park juga bisa berfungsi sebagai pusat pertemuan keluarga, seperti adanya pasangan yang telah memutuskan untuk melangsungkan pernikahan  di San Diego Hills,” ujar Suziany Japardy, Direktur Marketing San Diego Hills.

San Diego Hills Memorial Park juga dilengkapi  Heroes’ Plaza, sebuah area pemakaman yang dipersembahkan untuk menghormati jasa-jasa para tokoh nasional dalam bidang seni, budaya dan kesusasteraan, pendidikan, pemerintahan, kemasyarakatan dan olahraga. Para ‘pahlawan’ yang telah dimakamkan disitu antara lain Almarhum Ronny Pattinasarani, Li Poe Djian, Endang Witarsa dan Indra Gunawan; kesemuanya merupakan ‘pahlawan’ dalam bidang olahraga.

San Diego Hills Memorial Park memberikan hak kepemilikan berupa surat kolektif makam yang bisa dipindahtangankan dan diadministrasikan oleh PT Share Star Indonesia. Keuntungan yang akan diperoleh pembeli adalah lahan pemakaman berlaku untuk selamanya tanpa kuatir akan digusur dan tanpa biaya perawatan. informasi lengkap 085288121645



ReviewReviewReviewMay 31, '09 9:32 PM
for everyone
Category:Other

Jakarta, 31 Mei 2009 11:40
Universitas Indonesia (UI) akan membangun perpustakaan termodern,
terbesar, dan terindah di dunia, di kampus Depok, menempati areal seluas
2,5 hektare.

Gedung perpustakaan ini yang luas bangunannya 30 ribu m2, berlantai
delapan dan pemancangan tiang perdananya akan dilakukan Senin 1 Juni
2009 itu ditargetkan selesai pada Desember 2009.

Deputy Director Corporate Communications UI Devie Rahmawati, lewat
siaran persnya yang diterima di Jakarta, Minggu (31/5) menyatakan,
proyek yang merupakan pengembangan dari perpustakaan pusat yang dibangun
tahun 1986-1987 itu, didanai pemerintah dan industri dengan anggaran
sekitar Rp100 miliar.

Gedung perpustakaan ini dirancang dengan konsep sustainable building,
menggunakan sumber energi terbarukan berupa energi matahari, dan anti
penggunaan plastik dalam gedung.

Area baru ini ditetapkan bebas asap rokok, hijau, dan hemat listrik, air
dan kertas. Inilah beberapa keutamaan yang membuat perpustakaan ini akan
menjadi yang terbesar, termodern dan terindah di dunia.

Perpustakaan pusat UI tersebut akan mampu menampung sekitar 10.000
pengunjung dalam waktu bersamaan atau sekitar 20.000 orang per hari
selain itu juga akan menampung 3-5 juta judul buku.

Perpustakaan ini juga dilengkapi sistem ICT mutakhir sehingga pengunjung
leluasa menikmati sumber informasi elektronik seperti e-book, e-journal
dan lain-lain.

Perpaduan gaya arsitektur yang unik dan lokasi perpustakaan di tepi
danau Kenanga UI yang ditumbuhi pepohonan besar berusia 30 tahun akan
merupakan keindahan bagi perpustakaan tersebut.
http://gatra.com/artikel.php?id=126653


ReviewReviewReviewFeb 23, '09 5:30 AM
for everyone
Category:Other
Internet 3G Bermasalah? Silakan Class Action
Achmad Rouzni Noor II - detikinet

Ilustrasi (inet)


Jakarta -
Sulitnya mengakses internet dengan datacard 3G membuat pelanggan merasa haknya "diperkosa", ide menggugat class action pun timbul.

"Silakan saja jika masyarakat ingin menggugat secara class action. Itu hak mereka," ujar Kepala Pusat Informasi Depkominfo, Gatot S Dewa Broto, kepada detikINET, Senin (23/2/2009).

Pemerintah, lanjutnya, hanya bisa menegur dan memberi sanksi kepada operator yang bermasalah, jika terbukti melanggar hak pelanggan. "Kami masih akan mengevaluasi sampai 21 Juli 2009," ujarnya.

Saat ini ada lima operator yang menyelenggarakan layanan 3G, yakni Telkomsel, Indosat, Excelcomindo Pratama (XL), Natrindo Telepon Seluler (Axis), dan Hutchison CP Telecommunication (Three).

Operator 3G tersebut, khususnya tiga besar Telkomsel, Indosat, dan XL, selalu menjawab dengan pernyataan yang sama jika ditanya mengenai masalah sulitnya akses internet: kekurangan frekuensi.

"Kalau memang frekuensinya kurang, kenapa tetap gencar jualan?" kata Dina, pengguna 3G dari Indosat M2, yang sehari-harinya mengajar di sejumlah perguruan tinggi. Dina menggunakan akses berbasis volume based dan harus membayar lebih dari Rp 500 ribu tiap bulannya karena memilih paket layanan pascabayar.

"Awalnya saya memilih paket yang agak mahal, karena saya mementingkan kualitas, sebagaimana yang dijanjikan oleh mereka (IndosatM2 - Red.). Ternyata kini, boro-boro mau buka YouTube untuk men-download materi kuliah, untuk membuka layanan blog lokal saja lebih sering lambatnya," sesalnya.

Punya keluhan serupa, kenapa tidak ikut bersuara? Kirim segera email keluhan Anda ke redaksi@detikinet.com
( rou / wsh )

Category:Other
Curhat ke Lembaga Konsumen, Pelanggan 3G Dicuekin
Fransiska Ari Wahyu - detikinet

ilustrasi (ist)


Jakarta - Setelah sebelumnya pelanggan Indosat M2 yang 'berteriak' mengeluhkan kualitas layanan, kini giliran pelanggan Telkom Flash 3G ikut bersuara.

Seorang pelanggan yang mengeluhkan kualitas layanan Telkom Flash melalui email redaksi@detikINET.com, Senin (23/2/2009) adalah Khairy Rifqy.

"Satu minggu pertama koneksinya lumayan, lebih dari itu sering putus, kembali lumayan hanya pagi dan malam. Itupun bertahan paling lama 2 jam lalu kembali drop," kesal Khairy.

Keluhan senada juga disampaikan Saifur. Awalnya, Saifur mengaku puas menggunakan Flash berbasis waktu, tapi setelah kejadian perubahan APN dari flash ke internet yang menggunakan sistem unlimited, tagihannya membengkak.

"Saya menganggap pihak operator hanya mencari keuntungan, karena mereka tidak memberikan peringatan berupa sms tentang berapa byte yang telah kita gunakan sehingga kita beranggapan bahwa kita masih berdasarkan waktu padahal telah berdasarkan byte," sesal Saifur.

Saifur pernah mencoba menyampaikan keluhan ini ke lembaga konsumen nasional (melalui website departemen perindustrian). Namun, keluhan tersebut tidak mendapat tanggapan.

"Seolah-olah (Lembaga Konsumen-red) lebih memberikan perlindungan kepada operator bukan kepada konsumen," tandas Saifur.

Category:Other
Pelanggan 3G Merasa 'Diperbudak' dan 'Ikut Lotere'
Wicak Hidayat - detikinet

Modem 3G (inet)


Jakarta - Kualitas layanan 3G yang tidak bisa diandalkan membuat seorang pelanggan 3G merasa 'diperbudak'. Pelanggan lainnya merasa ikut lotere karena diminta 'coba lagi' oleh customer service.

Seorang pembaca detikINET bernama Haryadi Suryonoto menuturkan masalahnya dengan akses 3G melalui e-mail yang diterima redaksi@detikINET, Senin (23/2/2009).

Menurut Haryadi, masalah pada koneksi IndosatM2 yang digunakannya mulai terjadi kurang lebih tujuh bulan lalu ketika IndosatM2 menawarkan layanan Unlimited. "Kira-kira sejak 7 bulan yang lalu, IndosatM2 mengeluarkan paket Unlimited. Sejak saat itu akses internet menjadi sangat lambat, dan 'hang' alias no response,"

Tak lama kemudian, Haryadi mengatakan menerima surat dari Indosat. Isi surat itu, ujar Haryadi, adalah imbauan agar pelanggan tidak berinternet pada jam sibuk antara 18:00 WIB hingga 23:00 WIB.

"Sekarang ini, jangankan malam hari- pagi dan siang hari pun juga sama saja lambatnya. Yang agak mending hanyalah pukul 03 pagi hingga pukul 06 pagi. Ini mah sama saja dengan 'perbudakan' waktu saya," tulisnya.

Lain lagi pengalaman Andik Susilo, pelanggan layanan 3G yang sama dengan Haryadi ini mengatakan awalnya layanan yang digunakannya itu sangat memuaskan. "Tapi akhir-akhir ini untuk konek saja susah banget," tuturnya

Menurut Andik masalah kerap terjadi antara pukul 19:00 - 24:00 WIB. Pada jam-jam itu, paparnya, kecepatan koneksi tak lagi semantap pengalaman koneksi di masa-masa awal.

Andik pun mengaku jera menghubungi Customer Service penyedia layanan itu. "Pasti mereka selalu memberikan alasan itu-itu saja. Alasan klasikseperti sedang ada gangguan atau sedang maintenance, banyak yang sedang pakai, cuaca sedang jelek, dicoba lagi saja dan lain-lain. Memang lotere? Suruh coba terus?" tukasnya kesal.

( wsh / rou )

ReviewReviewReviewFeb 23, '09 5:21 AM
for everyone
Category:Other
3G Bermasalah, Pelanggan IM2 'Teriak'
Achmad Rouzni Noor II - detikinet

Modem 3G (inet)


Jakarta -
Dari lima operator penyelenggara 3G, layanan Indosat yang nampaknya paling bermasalah. Alhasil, pelanggannya pun 'teriak-teriak'.

Laksmi T. Darmoyono, pelanggan IM2 di Bandung sejak 2007, mengeluarkan kekesalannya dalam email yang dikirimkan pada redaksi@detikINET.com, Senin (23/2/2009).

"Awalnya memang lancar sekali, tapi makin lama makin parah. Akhir tahun 2008, pernah saya 2 hari tidak bisa akses internet sama sekali menggunakan IM2 sehingga harus pergi ke Warnet tengah malam untuk mengirim file yang diperlukan untuk kantor," ujarnya.

Kekesalan juga disampaikan Djoko Wahjudi, pelanggan IM2 sejak Juli 2008. Ia kecewa karena promosi bandwidth yang ditawarkan IM2 tidak sesuai kenyataan. Parahnya, hal itu justru berbuntut pada melonjaknya tagihan tiap bulan.

"Yang lebih mengecewakan, pada Januari dan Februari 2009 tagihan bengkak sampai Rp 1,3 juta per bulan dari rata-rata bulan sebelumnya Rp 500.000 per bulan," keluh Djoko.

Ia pun berharap Indosat sebagai perusahaan publik untuk lebih jujur berbisnis dan segera mengambil langkah untuk masalah ini. Kalau tidak, mungkin Djoko juga berpendapat seperti Laksmi.

"Sekarang saya berencana untuk ganti tidak menggunakan IM2 lagi karena tidak bisa dipercaya dan diharapkan. Betul-betul mengecewakan," demikian Laksmi.

( rou / wsh )


ReviewReviewReviewReviewFeb 23, '09 5:16 AM
for everyone
Category:Other
Jakarta -
Kalau dilihat dari definisinya, broadband seharusnya akses layanan internet dengan bandwidth stabil 256 kbps. Tapi nyatanya tidak demikian, karena yang mulus cuma tagihannya saja.

Demikian keluh Yulius Prihatnoko, pelanggan IM2 sejak Maret 2008. Yulius rela selama 18 bulan tagihannya didebet otomatis dari kartu kredit karena tertarik janji 3,2 Mbps.

"Meski layanan jaringan yang saya dapatkan jauh dari promosi yang ditawarkan, tagihan bulan sebesar Rp 388.000 tetap berjalan mulus di debet dari kartu kredit istri saya," katanya dalam email yang diterima detikINET, Senin (23/2/2009).

Jika Yulius harus mengeluarkan biaya Rp 388.000 per bulan dengan limit pemakaian 1,2 GB, lain lagi dengan Djoko Wahjudi, pelanggan IM2 sejak Juli 2008.

Ia harus rela tagihannya bengkak, dari rata-rata Rp 500.000 jadi Rp 1,3 juta tiap bulan. Penyebabnya tak lain karena padatnya trafik yang bikin sering disconnected.

"Alhasil, pelanggan pascabayar yang seharusnya dapat jatah premium, malah harus terus-terusan melakukan koneksi gagal yang bikin tagihan makin bengkak," sambung Dina, yang juga pakai IM2 pascabayar.

"Situasi ini membuat saya berpikir bahwa Indosat 'menjebak' pelanggan baru dengan promosi gencar, memberikan layanan bagus di awal masa langganan dan kemudian menelantarkan pelanggan lama yang sudah terikat dengan kontrak panjang," demikian Yulius.
( rou / wsh )


ReviewReviewReviewOct 21, '08 6:25 AM
for everyone
Category:Other
Jakarta (ANTARA News) - Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso mengungkapkan bahwa unsur-unsur kekuatan bersenjata Malaysia masih kerap melanggar wilayah Indonesia di kawasan Blok Ambalat.

Dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR dan Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono di Jakarta Selasa, Djoko mengatakan, dalam beberapa kali perundingan antara Pemerintah Indonesia, Malaysia tetap mengklaim Blok Ambalat sebagai bagian teritorialnya.

"Itu terlihat dari salinan nota diplomatik tentang proses pergelaran kekuatan TNI di Blok Ambalat dari Malaysia," ujar Djoko menambahkan.

Terkait pelanggaran oleh kekuatan bersenjata Malaysia itu, TNI mengintensifkan penggelaran kekuatan di sekitar Blok Ambalat dan Sulawesi Utara baik patroli laut maupun patroli udara.

"Itu upaya penangkalan dan pengimbangan terhadap kehadiran unsur kekuatan bersenjata Malaysia," lanjut Panglima TNI.

Blok Ambalat memiliki luas 15.235 kilometer persegi dan memiliki kandungan minyak dan gas hingga 30 tahun.

Pada rapat kerja yang dipimpin Ketua Komisi I DPR Theo L Sambuaga, Djoko mengemuakan, Indonesia masih memiliki permasalahan perbatasan dengan sejumlah negara seperti sepuluh titik di perbatasan darat RI-Malaysia di Kalimantan, enam titik di perbatasan darat RI-Timor Leste dan RI-Papua Nugini.

"Secara umum, TNI telah menggelar unsur-unsurnya di 12 pulau terdepan, termasuk di wilayah RI yang berbatasan dengan Malaysia, Timor Leste dan Papua Nugini," ujarnya menambahkan.

Tentang permasalahan perbatasan dengan Malaysia di sepanjang Kalimantan, Panglima TNI mengatakan perundingan oleh kedua pihak terus dilakukan.

Dari beberapa kali perundingan, kedua pihak belum sepakat tentang prinsip-prinsip dan petunjuk yang digunakan untuk wilayah maritim Selat Malaka, Selat Singapura, Laut Cina Selatan serta Laut Sulawesi (laut teritorial, zona tambahan batas landasan kontinen ZEE.

Sedangkan enam titik di perbatasan darat RI-Timor Leste yang masih bermasalah adalah Noelbesi (Kupang), Bijaelsunan Oben, Desa Tububanat, Nefonunpo, Imbate Nainanban, Sungkain Ninulat (TTU), Memo Dilomli, Desa Foho Aikakar, Fohotakis dan Kalanfehan (Kabupaten Belu).

"Untuk perbatasan maritim yang masih bermasalah di perbatasan RI-Timor Leste adalah di Pulau Batek," ucap Djoko menambahkan.

Sementara itu, kerawanan di wilayah perbatasan RI-Papua Nugini karena masih banyaknya pelintas batas tradisonal serta masih ada sekelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang menetap di wilayah PNG.

Hadir dalam rapat kerja itu Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Subandrio, Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Madya Moekhlas Sidiq dan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat.(*)


Category:Other
Kontrak LNG Dievaluasi
Investor China Ingin Kerja Sama Jangka Panjang

Minggu, 24 Agustus 2008 | 03:00 WIB
Beijing, Kompas - Wakil Presiden Jusuf Kalla akan bertemu Presiden
China Hu
Jintao dan Wapres China Xi Jinping untuk mengevaluasi kontrak gas
alam cair
dari Proyek Tangguh. Evaluasi dilakukan karena kontrak LNG Tangguh
yang
ditandatangani pada tahun 2002 merupakan kontrak terjelek dan paling
berbahaya dalam sejarah perminyakan Indonesia .

"Dari semua kontrak dalam hal perminyakan, ini yang paling
berbahaya. Saya
minta ini diperiksa. Dihitung dengan keadaan hari ini, kita rugi luar
biasa.
Saya datang ke China ingin membicarakan agar ada evaluasi ulang atas
kontrak
tersebut," ujar Wapres seusai menerima enam badan usaha milik negara
(BUMN)
China di Beijing, Sabtu (23/8).

Kontrak gas Tangguh dengan China untuk pasokan Provinsi Fujian
ditandatangani pada 2002 saat masa pemerintahan Presiden Megawati
Soekarnoputri. Harga jual gas yang disepakati saat itu sangat rendah,
hanya
sekitar 2,4 dollar AS per ton. Indonesia berkomitmen untuk mulai
memasok
tahun depan dengan volume 2,6 juta ton per tahun, selama 20 tahun.
Sebagai perbandingan, harga rata-rata kontrak gas alam cair Indonesia
saat
ini yang diproduksi di kilang Bontang untuk ekspor ke Jepang mencapai
20
dollar AS saat harga minyak 110 dollar AS per barrel.

Oleh karena itu, Indonesia terus berupaya memperbaiki harga. Upaya
perbaikan
harga pertama kali dilakukan tahun 2006. China bersedia negosiasi
ulang dan
menaikkan harga gas menjadi 3,8 dollar AS per ton. Namun, seiring
dengan
kenaikan harga minyak, Indonesia merasa harga itu masih terlalu
rendah.

"Kerugian kita terlalu besar. Kita menghormati kontrak yang sudah
diteken,
tetapi kita minta perhatian. Saat bertemu Presiden China besok
(Minggu),
saya akan bicarakan," ujar Wapres.

Staf Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Kardaya Warnika
mengatakan,
negosiasi Tangguh memerlukan persetujuan dari masing-masing instansi
pemerintah terkait, baik di China maupun Indonesia .

"Kesepakatan government to government sebagai payung hukum tetap
diperlukan,
terutama bagi China yang selalu harus ada perintah dari atas. Dalam
hal ini,
kesepakatan akan dilakukan National Development and Reform
Commission dengan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral," kata Kardaya.

Untuk mencegah agar harga kontrak gas yang rendah seperti Tangguh
tidak
terulang, Departemen ESDM akan mengeluarkan peraturan tentang ekspor
gas.
Harga gas ekspor harus lebih tinggi dari harga gas domestik.
Enam BUMN China

Sebelum jumpa pers, Wapres menerima enam BUMN China, yaitu Xi'an
Aircraft
Industry Company (XAC), China Export Import Bank (Exim), China Guodian
Corporation (CGDC), China National Petroleum Company (Petrochina) ,
China
Gezhouba Corporation (CGGC), dan China Huadian.

XAC, yang diwakili Presiden XAC Meng Xiangkai saat bertemu Wapres,
adalah
> perusahaan pembuat pesawat terbang terbesar China . XAC telah
memproduksi
lebih dari 20 jenis pesawat terbang dan menjadi kontraktor pembuat
vertical
fins dan komponen Boeing 737-700 dan B747, pintu-pintu pesawat Airbus
dan
ATR42, wing box untuk Aerospecial, komponen CL415 untuk Canadair, dan
ATR72
section 16 untuk Elenia.

XAC telah menjalin kerja sama dengan Merpati Indonesia untuk
penyediaan 15
pesawat MA-60. Penyerahan dua pesawat MA-60 oleh XAC kepada Merpati
Indonesia telah dilaksanakan pada Agustus 2007.
China Exim Bank berpartisipasi pada pemberian kredit bagi beberapa
proyek di
Indonesia , antara lain proyek pembangunan jembatan Surabaya-Madura,
Waduk
Jatigede, pembangkit listrik, dan pembelian 15 pesawat MA- 60.
Chairman
China Exim Bank Li Ruogu bertemu Wapres.

CGDC berpartisipasi dan berinvestasi senilai 700 juta dollar AS pada
pembangunan tiga pembangkit listrik di Indonesia . CGDC diwakili
Presiden
Zhu Yongpeng, Presiden Eksekutif Qiao Baoping, dan Wakil Presiden Guo
Peizhang saat bertemu Wapres.

Petrochina merupakan salah satu perusahaan minyak dan gas terbesar
dunia
dengan nilai pasar mencapai 1 triliun dollar AS dan kapasitas produksi
cadangan minyak 3,06 miliar metrik ton serta cadangan gas 2,31
triliun meter
kubik. Produksi minyak mentahnya per hari 2,75 juta barrel, sementara
gas
mencapai 5,6 juta kaki kubik per hari.

Aset migas Petrochina berada di 27 negara. Petrochina mendapat
kontrak 20
tahun untuk memasok gas dari Indonesia ke Singapura pada Februari
2001.
Indonesia merupakan negara pertama eksplorasi dan eksploitasi migas
Petrochina di luar negeri. Ladang migas Petrochina terdapat di Jabung
(Jambi), Papua, dan Tuban (Jawa Timur) dengan total 63.000 BOEPD.

Petrochina mengakuisisi Devon Energy Companies di Indonesia pada
tahun 2002.
Presiden Petrochina Jiang Jiemin datang menemui Wapres.

Adapun CGGC adalah BUMN besar di China dan terdepan di bidang
pembangunan
hydropower. CGGC juga melakukan ekspansi bisnis ke sektor
infrastruktur
lain, seperti pembangunan pembangkit listrik bertenagakan panas,
pembangkit
listrik bertenaga nuklir, jalan raya, jembatan, rel kereta api,
pelabuhan,
dan kawasan cagar alam. Saat ini, CGGC memenangi 30 kontrak
pembangunan
hydropower, jalan raya, dan penyediaan air dari negara-negara Timur
Tengah,
Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika.

CGGC berpartisipasi dalam pembangunan PLTA Asahan 1 dengan daya 90 x 2
megawatt di bawah kontrak kerja Hua Dian Group. Selain itu, CGGC
berencana
berpartisipasi dalam beberapa proyek pembangunan PLTA di Sulawesi
Tengah dan
Sumatera. Presiden CGGC Yang Jixue dan Wakil Presiden CGGC Nie Kai
yang
bertemu Wapres.

"Mereka ingin investasi dan kerja sama di Indonesia berjalan dalam
jangka
panjang. Kita semua terbuka karena investasi mereka sangat penting
untuk
kita meskipun kita tetap selektif," ujar Wapres. (DOT)


> http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/08/24/ 01403476/
kontrak.lng

Blog EntryMay 18, '07 7:25 PM
for everyone
Oleh : Redaksi 10 May 2007 - 5:30 pm

Islam masuk lebih awal sebelum agama lainnya di Papua. Namun, banyak upaya
pengaburan, seolah-olah, Papua adalah pulau Kristen. Bagaimana sejarahnya?

Upaya-upaya pengkaburan dan penghapusan sejarah dakwah Islam berlangsung
dengan cara sistematis di seantero negeri ini. Setelah Sumetera Utara,
Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, dan Maluku diklaim
sebagai kawasan Kristen, dengan berbagai potensi menariknya, Papua merupakan
jualan terlaris saat ini. Papua diklaim milik Kristen!

Ironis, karena hal itu mengaburkan fakta dan data sebenarnya di mana Islam
telah hadir berperan nyata jauh sebelum kedatangan mereka (agama Kristen
Missionaris) . :foto

Berikut catatan Ali Atwa, wartawan Majalah Suara Hidayatullah dan juga
penulis buku “Islam Atau Kristen Agama Orang Irian (Papua)” tentang Islam di
Bumi Cenderawasih bagian pertama:

Menurut HJ. de Graaf, seorang ahli sejarah asal Belanda, Islam hadir di Asia
Tenggara melalui tiga cara: Pertama, melalui dakwah oleh para pedagang
Muslim dalam alur perdagangan yang damai; kedua, melalui dakwah para dai dan
orang-orang suci yang datang dari India atau Arab yang sengaja ingin
mengislamkan orang-orang kafir; dan ketiga, melalui kekuasan atau peperangan
dengan negara-negara penyembah berhala.

Dari catatan-catatan yang ada menunjukkan bahwa kedatangan Islam di tanah
Papua, sesungguhnya sudah sanggat lama. Islam datang ke sana melalui
jalur-jalur perdagangan sebagaimana di kawasan lain di nusantara.

Sayangnya hingga saat ini belum ditentukan secara persis kapan hal itu
terjadi. Sejumlah seminar yang pernah digelar seperti di Aceh pada tahun
1994, termasuk yang dilangsungkan di ibukota provinsi Kabupaten Fakfak dan
di Jayapura pada tahun 1997, belum menemukan kesepakatan itu. Namun yang
pasti, jauh sebelum para misionaris menginjakkan kakinya di kawasan ini,
berdasarkan data otentik yang diketemukan saat ini menunjukkan bahwa
muballigh-muballigh Islam telah lebih dahulu berada di sana.

Aktivitas dakwah Islam di Papua merupakan bagian dari rangkaian panjang
syiar Islam di Nusantara. Menurut kesimpulan yang ditarik di dalam sebuah
seminar tentang masuknya Islam ke Indonesia, Medan 1963, Islam masuk ke
Indonesia sudah sejak abad ke-7 dan ke-8 Masehi. Di mana daerah pertama yang
didatangi oleh Islam adalah pesisir Utara Sumatera, dan setelah
berkembangnya para pemeluk Islam, maka kerajaan Islam yang pertama di
Indonesia ialah Kerajaaan Perlak, tahun 840.

Perkembangan agama Islam bertambah pesar pada masa Kerajaan Samudera Pasai,
sehingga menjadi pusat kajian Agama Islam di Asia Tenggara. Saat itu dalam
pengembangan pendidikan Islam mendapatkan dukungan dari pimpinan kerajaan,
sultan, uleebalang, panglima sagi dan lain-lain. Setelah kerajaan Perlak,
berturut-turut muncul Kerajaan Islam Samudera Pasai (1042), Kerajaan Islam
Aceh (1025), Kerajaan Islam Benua Tamiah (1184), Kerajaan Islam
Darussalam(1511) .

Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa sebelum tahun 1416 Islam sudah masuk
di Pulau Jawa. Penyiaran Islam pertama di tanah jawa dilakukan oleh Wali
Songo (Wali Sembilan). Yang terkenal sebagai orang yang mula-mula memasukkan
Islam ke Jawa ialah Maulana Malik Ibrahim yang meninggal tahun 1419. Ketika
Portugis mendaratkan kakinya di pelabuhan Sunda Kelapa tahun 1526, Islam
sudah berpengaruh di sini yang dipimpin oleh Falatehan. Putera Falatehan,
Hasanuddin, pada tahun 1552 oleh ayahnya diserahi memimpin banten.

Di bawah pemerintahannya agama Islam terus berkembang. Dari Banten menjalar
ke Sumatera Selatan, Lampung dan Bengkulu. Juga di pula Madura agama Islam
berkembang.

Pada pertengahan abad ke-16 penduduk Minangkabau memeluk Islam begitu juga
di Gayo Sumatera Utara. Ketika Sultan Malaka terakhir diusir oleh Portugis,
ia menetap di Pulau Bintan, yang kala itu sudah menjadi negeri Islam (1511).

Pada tahun 1514, sebagian penduduk Brunai di Kalimantan sudah memeluk agama
Islam. Bahkan pada tahun 1541, raja Brunai sendiri masuk Islam. Di
Kalimantan Barat, Sambar, yang menjadi bawahan negeri johor, penduduknya
sudah masuk Islam pada pertengahan abad ke-16. Di bagian selatan Kalimantan
yang tadinya merupakan wilayah kekuasaan Kejaraan Majapahit, setelah
Majapahit ditaklukan oleh Kerajaan Islam Demak. Masuknya Islam di
Banjarmasin sekitar tahun 1550, dan pada tahun 1620 di Kotawaringin telah
terdapat seorang raja yang memeluk agama Islam.

Pada tahun 1600 Kerajaan Pasir dan Kutai telah menjadi daerah Islam. Seabad
kemudian menyusul Kerajaan Berau dan Bulungan. Di Sulawesi raja Goa tahun
1603 masuk Islam. Selanjutnya raja Goa mengislamkan daerah-daerah di
sekitarnya seperti Bone [1606], Soppeng [1609], Bima (1626), Sumbawa (1626)
juga Luwu, Palopo, mandar, Majene menjadi daerah Islam.

Di wilayah Sulawesi Utara mulai dari Mandar sampai Manado pada pertengahan
abad ke -16 menjadi bawahan Kerajaan Ternate yang rajanya adalah seorang
Muslim. Atas ajakan raja Ternate, raja Bolaang Mongondow memeluk Islam.
Terus ke timur di kepulauan Maluku pada mula abad ke-16 telah memiliki
kerajaan Islam yakni Kerajaan Bacan. Muballigh dari kerajaan Ini terus
mendakwahkan Islam ke kawasan tetangganya di Papua melalui jalur perdagangan


Sejak Zaman Kerajaan Majapahit
Seorang Guru Besar Bidang Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Negeri
Malang, Dr. Moehammad Habib Mustofo, yang sekaligus Ketua Asosiasi Ahli
Epigrafi Indonesia (AAEI) Jawa Timur menjelaskan bahwa dakwah Islam sudah
ada sejak zaman Kerajaan Majapahit.

Apalagi dengan diketemukanya data artefakt yang waktunya terentang antara
1368-1611M yang membuktikan adanya komunitas Muslim di sikitar Pusat Keraton
Majapahit, di Troloyo, yakni sebuah daerah bagian selatan Pusat Keraton
Majapahit yang waktu itu terdapat di Trowulan.

Situs Islam di Troloyo sudah dikenal sejak abad XIX, namun para ilmuwan
meragukan kepentingan nisan-nisan itu sebagai salah satu sumber primer yang
penting berkaitan dengan islamisasi di Jawa.

L.W.C. van den Berg, pada laporannya tertanggal 1 Februari 1887 tentang data
epigrafi Arab di Situs Troloyo meragukan keasliannya, karena tulisan Arabnya
yang kasar dan banyak salah tulis. Selanjutnya ia berpendapat bahwa
inskripsi Arabnya sengaja ditambahkan kemudian pada artefak yang berisi
tahun saka itu (Damais, 1957:365).

Pendapat lain dikemukakan oleh Veth, yang memperkirakan bahwa nisan-nisan
tersebut berasal dari bagu candi. N.J. Krom menyatakan sittus Troloyo tidak
mempunyai nilai arkeologis(Krom, 1923:184).

Sikap para sarjana terhadap temuan di Troloyo tersebut mulai berubah sejak
tahun 1942. W.F. Stuterheim yang menjabat sebagai kepala Oudheidkundig Diens
menjelang penduddukan Jepang di Indonesia mengajak L.C. Damais ke Situs
Troloyo. Stuterhem mengharapkan temuan Damais, yang seorang antropolog
berkebangsaan Perancis itu akan menambah pengetahuan baru dalam arkeologi
Islam. Hasil penelitian Damais itu baru dipublikasikan pada tahun 1957.

Dari hasil penelitian Damais didapat pandangan yang menarik karena di sana
didapati suatu interaksi antara komunitas Muslim saat itu dengan para
penganut Hindu-Budha di bawah pemerintahan Majapahit.

Kesimpulan tersebut didasarkan atas studi huruf Jawa kuno dalam konteks
makam Islam di daerah Troloyo tertulis tahun 1368-1611M. Kajian tentang
huruf yang terdapat pada nisan Islam di Troloyo tersebut dapat disimpulkan
bahwa bentuk angka Jawa kuno dipengaruhi oleh bentuk tulisan Arab yang serba
tebal dan besar.

Kajian oleh L.C. Damais dan de Casparis dari sudut paleografi membuktikan
bahwa telah terjadi saling pengaruh antara dua kebudayaan yang berbeda
(yakni antara Hindu-Budha- Islam) pada awal perkembangan Islam di Jawa Timur.
Melalui data-data tersebut, Habib ingin menjelaskan bahwa sesungguhnya
dakwah Islam sudah terjadi terjadi jauh sebelum keruntuhan total kerajaan
Majapahit yakni tahun 1527M. Dengan kata lain, ketika kerajaan Majapahit
berada di puncak kejayaannya, syiar Islam juga terus menggeliat melalui
jalur-jalur perdagangan di daerah-daerah yang menjadi kekuasaan Majapahit di
delapan mandala (meliputi seluruh nusantara) hingga malaysia, Brunei
Darussalam, hingga di seluruh kepulauan Papua.

Masa antara abad XIV-XV memiliki arti penting dalam sejarah kebudayaan
Nusantara, di mana pada saat itu ditandai hegemoni Majapahit sebagai
Kerajaan Hindu-Budha mulai pudar. Se-zaman dengan itu, muncul jaman baru
yang ditandai penyebaran Islam melalui jalar perdagangan Nusantara.

Melalui jalur damai perdagangan itulah, Islam kemudian semakin dikenal di
tengah masyarakat Papua. Kala itu penyebaran Islam masih relatif terbatas di
kota-kota pelabuhan. Para pedagang dan ulama menjadi guru-guru yang sangat
besar pengaruhnya di tempat-tempat baru.

Sebagai kerajaan tangguh masa itu, kekuasaan Kerajaan Majapahit meliputi
seluruh wilayah Nusantara, termasuk Papua. Beberapa daerah di kawasan
tersebut bahkan disebut-sebut dalam kitab Negarakertagama, sebagai wilayah
Yurisdiksinya. Keterangan mengenai hal itu antara disebutkan sebagai
berikut:

"Muwah tang i Gurun sanusanusa mangaram ri Lombok Mirah lawan tikang i
Saksakadi nikalun kahaiyan kabeh nuwati tanah i bantayan pramuka Bantayan
len luwuk teken Udamakatrayadhi nikang sanusapupul" .

"Ikang sakasanusasanusa Makasar Butun Banggawai Kuni Ggaliyao mwang i [ng]
Salaya Sumba Solot Muar muwah tigang i Wandan Ambwan Athawa maloko Ewanin ri
Sran ini Timur ning angeka nusatutur".

Dari keterangan yang diperoleh dalam kitab klasik itu, menurut sejumlah ahli
bahasa yang dimaksud "Ewanin" adalah nama lain untuk daerah "Onin" dan "Sran
adalah nama lain untuk "Kowiai". Semua tempat itu berada di Kaimana,
Fak-Fak. Dari data tersebut menjelaskan bahwa pada zaman Kerajaan Majapahit
sejumlah daerah di Papua sudah termasuk wilayah kekuasaan Majapahit.

Menurut Thomas W. Arnold : "The Preaching of Islam”, setelah kerajaan
Majapahit runtuh, dikalahkan oleh kerajaan Islam Demak, pemegang kekuasan
berikutnya adalah Demak Islam. Dapat dikatakan sejak zaman baru itu,
pengaruh kerajaan Islam Demak juga menyebar ke Papua, baik langsung maupun
tidak.

Dari sumber-sumber Barat diperoleh catatan bahwa pada abad ke XVI sejumlah
daerah di Papua bagian barat, yakni wilayah-wilayah Waigeo, Missool, Waigama
dan Salawati, tunduk kepada kekuasaan Sultan Bacan di Maluku.

Catatan serupa tertuang dalam sebuah buku yang dikeluarkan oleh Periplus
Edition, di buku “Irian Jaya”, hal 20 sebuah wadah sosial milik misionaris
menyebutkan tentang daerah yang terpengaruh Islam. Dalam kitab
Negarakertagama, di abad ke 14 di sana ditulis tentang kekuasaan kerajaan
Majapahit di Jawa Timur, di mana di sana disebutkan dua wilayah di Irian
yakni Onin dan Seran

Bahkan lebih lanjut dijelaskan: Namun demikian armada-armada perdagangan
yang berdatangan dari Maluku dan barangkali dari pulau Jawa di sebelah barat
kawasan ini, telah memiliki pengaruh jauh sebelumnya.

....Pengaruh ras austronesia dapat dilihat dari kepemimpinan raja di antara
keempat suku, yang boleh jadi diadaptasi dari Kesultanan Ternate, Tidore dan
Jailolo. Dengan politik kontrol yang ketat di bidang perdagangan pengaruh
kekuasaan Kesultanan Ternate di temukan di raja Ampat di Sorong dan di
seputar Fakfak dan diwilayah Kaimana

Sumber cerita rakyat mengisahkan bahwa daerah Biak Numfor telah menjadi
bagian dari wilayah kekuasaan Sultan Tidore.

Sejak abad ke-XV. Sejumlah tokoh lokal, bahkan diangkat oleh Sultan Tidore
menjadi pemimpin-pemimpin di Biak. Mereka diberi berbagai macam gelar, yang
merupakan jabatan suatu daerah. Sejumlah nama jabatan itu sekarang ini dapat
ditemui dalam bentuk marga/fam penduduk Biak Numfor.

Kedatangan Orang Islam Pertama
Berdasarkan keterangan di atas jelaslah bahwa, masuknya Islam ke Papua,
tidak bisa dilepaskan dengan jalur dan hubungan daerah ini dengan daerah
lain di Indonesia. Selain faktor pengaruh kekuasaan Kerajaan Majapahit,
masuknya Islam ke kawasan ini adalah lewat Maluku, di mana pada masa itu
terdapat kerajaan Islam berpengaruh di kawasan Indonesia Timur, yakni
kerajaan Bacan.

Bahkan keberadaan Islam Bacan di Maluku sejak tahun 1520 M dan telah
menguasai beberapa daerah di Papua pada abad XVI telah tercatat dalam
sejarah. Sejumlah daerah seperti Waigeo, Misool, Waigama dan Salawati pada
abad XVI telah mendapat pengaruh dari ajaran Islam. Melalui pengaruh Sultan
Bacan inilah maka sejumlah pemuka masyarakat di pulau-pulau tadi memeluk
agama Islam, khususnya yang di wilayah pesisir. Sementara yang dipedalaman
masih tetap menganut faham animisme.

Thomas Arnold yang seorang orientalis berkebangsaan Inggris memberi catatan
kaki dalam kaitannya dengan wilayah Islam tersebut: “…beberapa suku Papua di
pulau Gebi antara Waigyu dan Halmahera telah diislamkan oleh kaum pendatang
dari Maluku"

Tentang masuk dan berkembangnya syi'ar Islam di daerah Papua, lebih lanjut
Arnold menjelaskan: “Di Irian sendiri, hanya sedikit penduduk yang memeluk
Islam. Agama ini pertama kali dibawa masuk ke pesisir barat [mungkin
semenanjung Onin] oleh para pedagang Muslim yang berusaha sambil berdakwah
di kalangan penduduk, dan itu terjadi sejak tahun 1606. Tetapi nampaknya
kemajuannya berjalan sangat lambat selama berabad-abad kemudian..."

Bila ditinjau dari laporan Arnold tersebut, maka berarti masuknya Islam ke
daerah Papua terjadi pada awal abad ke XVII, atau dua abad lebih awal dari
masuknya agama Kristen Protestan yang masuk pertama kali di daerah Manokwari
pada tahun 1855, yaitu ketika dua orang missionaris Jerman bernama C.W.
Ottow dan G.J. Geissler mendarat dan kemudian menjadi pelopor kegiatan
missionaris di sana. (Ali Atwa, penulis buku “Islam Atau Kristen Agama Orang
Irian (Papua).” (Hidayatullah)


Tahukah Anda: Islam Masuk ke Nusantara Saat Rasulullah SAW Masih Hidup
(Bag.1)

Senin, 26 Mar 07 14:01 WIB

Islam masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di
abad ke 14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini
disebut juga sebagai Teori Gujarat. Demikian menurut buku-buku sejarah
yang sampai sekarang masih menjadi buku pegangan bagi para pelajar
kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di
beberapa perguruan tinggi.

Namun, tahukah Anda bahwa Teori Gujarat ini berasal dari seorang
orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk
menghancurkan Islam? Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje, yang
demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dengan sangat
giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang
Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.

Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi
Muhammad SAW menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para
pedagang Cina, Nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini
sudah ramai saat itu.

Mengutip buku Gerilya Salib di Serambi Makkah (Rizki Ridyasmara,
Pustaka Alkautsar, 2006) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah
soal masuknya Islam di Nusantara, Peter Bellwood, Reader in
Archaeology di Australia National University, telah melakukan banyak
penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.

Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad
kelima masehi, yang berarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa
jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan
Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda
perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan
Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini.

Dalam catatan kakinya Bellwood menulis, "Museum Nasional di Jakarta
memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera
Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di
antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM),
berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan
berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering
dijarah…" Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun
221 SM, para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan
dagang dengan para pedagang dari Cina.

Masih menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan
antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang
dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki
wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di
selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967;
Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, "kerajaan-kerajaan kecil"
yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang
terakhir ini tidak dijumpai catatannya.

Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya.
Pangeran Aji Saka sendiri baru "diketahui" memulai sistem penulisan
huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa
antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah
berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya.
Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di
Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai
kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya.

Temuan G. R Tibbets

Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan
Jawa—dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G. R. Tibbetts. Bahkan
Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang
terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang
dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan
bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara
saat itu.

"Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat
persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina
sejak abad kelima Masehi, " tulis Tibbets. Jadi peta perdagangan saat
itu terutama di selatan adalah Arab-Nusantara- China.

Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang
seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun
setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun
setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di
sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan
Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha
Sriwijaya.

Di perkampungan- perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah
melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi
perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di
sana. Dari perkampungan- perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat
pengajian al-Qur'an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal
madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).

Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang
pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah
menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam
di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan
tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama
Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah
diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di
Princetown University di Amerika.

Pembalseman Firaun Ramses II Pakai Kapur Barus Dari Nusantara

Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah
pesisir Barat Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut
Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di
antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan.
Di zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun ketika
Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Aceh
Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh.

Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari
seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah
disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India,
Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.

Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang
Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad
ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera
terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal
menghasilkan wewangian dari kapur barus.

Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer
dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi
pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau
sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!

Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal
sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad
ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus,
di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini
memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu.

Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D'extreme-Orient
(EFEO) Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian
Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa
pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan
multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India,
China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.

Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang
usianya sudah ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan
di Barus itu sangatlah makmur.

Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang
Arab, Aceh, dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki
kedudukan baik dan pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun
pemerintah (Kerajaan Budha Sriwijaya). Bahkan kemudian ada juga yang
ikut berkuasa di sejumlah bandar. Mereka banyak yang bersahabat, juga
berkeluarga dengan raja, adipati, atau pembesar-pembesar Sriwijaya
lainnya. Mereka sering pula menjadi penasehat raja, adipati, atau
penguasa setempat. Makin lama makin banyak pula penduduk setempat yang
memeluk Islam. Bahkan ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat
yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai (Rz, Bersambung)
------------ --------- --------- --------- -

http://www.eramuslim.com/news/ tha/46072b31. htm

Islam Masuk ke Nusantara Ketika Rasulullah SAW Masih Hidup (Bag.2, Tamat)

Rabu, 28 Mar 07 14:23 WIB

Sejarahwan T. W. Arnold dalam karyanya "The Preaching of Islam" (1968)
juga menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh
mubaligh-mubaligh Islam asal jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad
ke-7 M.

Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini, misal,
menurut laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M,
seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah
mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara (F.
Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and
Arab Trade in XII Centuries, St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159).

Bukti lainnya, di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur, sebuah batu nisan
kepunyaan seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun bertanggal
tahun 1082 telah ditemukan. Penemuan ini membuktikan bahwa Islam telah
merambah Jawa Timur di abad ke-11 M (S. Q. Fatini, Islam Comes to
Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39).

Dari bukti-bukti di atas, dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk ke
Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup. Secara ringkas dapat
dipaparkan sebagai berikut: Rasululah menerima wahyu pertama di tahun
610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal
pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara
diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama
tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari
Makkah ke seluruh Jazirah Arab.

Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah
perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9
tahun sejak Rasulullah SAW memproklamirkan dakwah Islam secara
terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam.

Selaras dengan zamannya, saat itu umat Islam belum memiliki mushaf
Al-Qur'an, karena mushaf Al-Qur'an baru selesai dibukukan pada zaman
Khalif Utsman bin Affan pada tahun 30 H atau 651 M. Naskah Qur'an
pertama kali hanya dibuat tujuh buah yang kemudian oleh Khalif Utsman
dikirim ke pusat-pusat kekuasaan kaum Muslimin yang dipandang penting
yakni (1) Makkah, (2) Damaskus, (3) San'a di Yaman, (4) Bahrain, (5)
Basrah, (6) Kuffah, dan (7) yang terakhir dipegang sendiri oleh Khalif
Utsman.

Naskah Qur'an yang tujuh itu dibubuhi cap kekhalifahan dan menjadi
dasar bagi semua pihak yang berkeinginan menulis ulang. Naskah-naskah
tua dari zaman Khalifah Utsman bin Affan itu masih bisa dijumpai dan
tersimpan pada berbagai museum dunia. Sebuah di antaranya tersimpan
pada Museum di Tashkent, Asia Tengah.

Mengingat bekas-bekas darah pada lembaran-lembaran naskah tua itu maka
pihak-pihak kepurbakalaan memastikan bahwa naskah Qur'an itu merupakan
al-Mushaf yang tengah dibaca Khalif Utsman sewaktu mendadak kaum
perusuh di Ibukota menyerbu gedung kediamannya dan membunuh sang Khalifah.

Perjanjian Versailes (Versailes Treaty), yaitu perjanjian damai yang
diikat pihak Sekutu dengan Jerman pada akhir Perang Dunia I, di dalam
pasal 246 mencantumkan sebuah ketentuan mengenai naskah tua
peninggalan Khalifah Ustman bin Affan itu yang berbunyi: (246) Di
dalam tempo enam bulan sesudah Perjanjian sekarang ini memperoleh
kekuatannya, pihak Jerman menyerahkan kepada Yang Mulia Raja Hejaz
naskah asli Al-Qur'an dari masa Khalif Utsman, yang diangkut dari
Madinah oleh pembesar-pembesar Turki, dan menurut keterangan, telah
dihadiahkan kepada bekas Kaisar William II (Joesoef Sou'yb, Sejarah
Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang, cet. 1, 1979, hal. 390-391).

Sebab itu, cara berdoa dan beribadah lainnya pada saat itu diyakini
berdasarkan ingatan para pedagang Arab Islam yang juga termasuk para
al-Huffadz atau penghapal al-Qur'an.

Menengok catatan sejarah, pada seperempat abad ke-7 M, kerajaan Budha
Sriwijaya tengah berkuasa atas Sumatera. Untuk bisa mendirikan sebuah
perkampungan yang berbeda dari agama resmi kerajaan—perkampunga n Arab
Islam—tentu membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum diizinkan
penguasa atau raja. Harus bersosialisasi dengan baik dulu kepada
penguasa, hingga akrab dan dipercaya oleh kalangan kerajaan maupun
rakyat sekitar, menambah populasi Muslim di wilayah yang sama yang
berarti para pedagang Arab ini melakukan pembauran dengan jalan
menikahi perempuan-perempuan pribumi dan memiliki anak, setelah semua
syarat itu terpenuhi baru mereka—para pedagang Arab Islam ini—bisa
mendirikan sebuah kampung di mana nilai-nilai Islam bisa hidup di
bawah kekuasaan kerajaan Budha Sriwijaya.

Perjalanan dari Sumatera sampai ke Makkah pada abad itu, dengan
mempergunakan kapal laut dan transit dulu di Tanjung Comorin, India,
konon memakan waktu dua setengah sampai hampir tiga tahun. Jika tahun
625 dikurangi 2, 5 tahun, maka yang didapat adalah tahun 622 Masehi
lebih enam bulan. Untuk melengkapi semua syarat mendirikan sebuah
perkampungan Islam seperti yang telah disinggung di atas, setidaknya
memerlukan waktu selama 5 hingga 10 tahun.

Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang
mula-mula membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab
Islam generasi pertama para shahabat Rasulullah, segenerasi dengan Ali
bin Abi Thalib r. A..

Kenyataan inilah yang membuat sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara
sangat yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah masih
hidup di Makkah dan Madinah. Bahkan Mansyur Suryanegara lebih berani
lagi dengan menegaskan bahwa sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul,
saat masih memimpin kabilah dagang kepunyaan Khadijah ke Syam dan
dikenal sebagai seorang pemuda Arab yang berasal dari keluarga
bangsawan Quraisy yang jujur, rendah hati, amanah, kuat, dan cerdas,
di sinilah ia bertemu dengan para pedagang dari Nusantara yang juga
telah menjangkau negeri Syam untuk berniaga.

"Sebab itu, ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul dan mendakwahkan
Islam, maka para pedagang di Nusantara sudah mengenal beliau dengan
baik dan dengan cepat dan tangan terbuka menerima dakwah beliau itu, "
ujar Mansyur yakin.

Dalam literatur kuno asal Tiongkok tersebut, orang-orang Arab disebut
sebagai orang-orang Ta Shih, sedang Amirul Mukminin disebut sebagai
Tan mi mo ni'. Disebutkan bahwa duta Tan mi mo ni', utusan Khalifah,
telah hadir di Nusantara pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah dan
menceritakan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dengan
telah tiga kali berganti kepemimpinan. Dengan demikian, duta Muslim
itu datang ke Nusantara di perkampungan Islam di pesisir pantai
Sumatera pada saat kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan (644-656 M).
Hanya berselang duapuluh tahun setelah Rasulullah SAW wafat (632 M).

Catatan-catatan kuno itu juga memaparkan bahwa para peziarah Budha
dari Cina sering menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang
Arab sejak menjelang abad ke-7 Masehi untuk mengunjungi India dengan
singgah di Malaka yang menjadi wilayah kerajaan Budha Sriwijaya.

Gujarat Sekadar Tempat Singgah

Jelas, Islam di Nusantara termasuk generasi Islam pertama. Inilah yang
oleh banyak sejarawan dikenal sebagai Teori Makkah. Jadi Islam di
Nusantara ini sebenarnya bukan berasal dari para pedagang India
(Gujarat) atau yang dikenal sebagai Teori Gujarat yang berasal dari
Snouck Hurgronje, karena para pedagang yang datang dari India, mereka
ini sebenarnya berasal dari Jazirah Arab, lalu dalam perjalanan
melayari lautan menuju Sumatera (Kutaraja atau Banda Aceh sekarang
ini) mereka singgah dulu di India yang daratannya merupakan sebuah
tanjung besar (Tanjung Comorin) yang menjorok ke tengah Samudera
Hindia dan nyaris tepat berada di tengah antara Jazirah Arab dengan
Sumatera.

Bukalah atlas Asia Selatan, kita akan bisa memahami mengapa para
pedagang dari Jazirah Arab menjadikan India sebagai tempat transit
yang sangat strategis sebelum meneruskan perjalanan ke Sumatera maupun
yang meneruskan ekspedisi ke Kanton di Cina. Setelah singgah di India
beberapa lama, pedagang Arab ini terus berlayar ke Banda Aceh, Barus,
terus menyusuri pesisir Barat Sumatera, atau juga ada yang ke Malaka
dan terus ke berbagai pusat-pusat perdagangan di daerah ini hingga
pusat Kerajaan Budha Sriwijaya di selatan Sumatera (sekitar
Palembang), lalu mereka ada pula yang melanjutkan ekspedisi ke Cina
atau Jawa.

Disebabkan letaknya yang sangat strategis, selain Barus, Banda Aceh
ini telah dikenal sejak zaman dahulu. Rute pelayaran perniagaan dari
Makkah dan India menuju Malaka, pertama-tama diyakini bersinggungan
dahulu dengan Banda Aceh, baru menyusuri pesisir barat Sumatera menuju
Barus. Dengan demikian, bukan hal yang aneh jika Banda Aceh inilah
yang pertama kali disinari cahaya Islam yang dibawa oleh para pedagang
Arab. Sebab itu, Banda Aceh sampai sekarang dikenal dengan sebutan
Serambi Makkah.(Rz, Tamat)

*eramuslim.com*